Tanpa Lengan
TANPA
LENGAN
Rosa menendang pintuku selarut ini, ia meminta
diselimuti. Aku melihat selimut dan jaket berserakan di lantai, kamarnya
sungguh kacau. Hampir setiap malam dia menendang-nendang pintuku. Ini sudah
kesekian kali aku meminta untuk menggunakan kakinya. Aku rasa dia bisa namun
tidak memiliki kemauan.Sudah sebulan kedua lengannya lumpuh. Setiap menjelang
sore ia merasa kedinginan. Rosa meringkuk di pojokan tanpa bisa memeluk lutut.
Lampu kamar tak sempat ia nyalakan.
“Cepat selimuti aku”Pinta Rosa dengan suara tak
jelas karena tubuh yang menggigil.
“Malam ini di sini saja” Aku mencoba mengatur Rosa
walaupun tidak akan diturutinya.
“Tidak bisa”
“Minumlah obatmu kemudian biarkan otakmu tidur”
“Urusilah hidupmu sendiri”
“Kalau begitu tidak perlu kau memintaku menyelimutimu”
“Terlantarkan saja aku sekalian” Rosa selalu begitu,
memiliku sepihak. Sedangkan aku hanya memilikinya dalam pikiran.Pernah sekali
aku tidak peduli dengannya. Kukunci kamarku lalu tidak kulayani permintaannya.
Dia terus menendang-nendang pintuku sampai beberapa jam. Setelah tenang, kubuka
pintu kamar. Aku tidak melihatnya, kutunggu semalaman. Dia menghilang. Saat itu
kedua lengannya belum lumpuh.
“Darimana?” Pagi itu Rosa terlihat lelah. Terdapat
bekas kecupan-kecupan sepanjang lehernya.
“Aku dipulangkan sepagi ini. Dia memberiku sebungkus
rokok!” Rosa tertawa terbahak-bahak sembari membuka pintu kamar, namun kunci
kamarnya terus terjatuh. Dia masih terbahak. Aku tidak tahan melihat itu.
Kutarik lengannya, memasukkan dia ke kamarku. Aku ingin mengguyurnya dengan air
dingin agar ia segera sadar dan berhenti berbuat konyol.
“Sebungkus rokok” Rosa melempar rokok ke dinding
kamar. Aku memeluknya dari belakang.Dia berhenti tertawa lalu menangis
tesedu-sedu. Kueratkan pelukanku, mengambil kedua tangannya agar kepalan itu tidak
meninju tembok lagi.
“Aku hanya mau ditemani tidur dan terbangun dengan
keberadaan lelaki”
“Aku lebih dari cukup untuk itu”
“Aku hanya butuh lengan mereka, memelukku sampai
pagi”
“Aku lebih dari cukup untuk itu”
Sejak
itu aku memutuskan untuk memilikinya dalam pikiran. Sejak itu lengan Rosa
semakin melemah tiap harinya.Tiap malam ia mencari sepasang lengan lelaki.
Sembarang lelaki ia tunggangi tanpa perlu menaruh hati. Beberapa kali lelaki
mengikutinya, jika begitu Rosa tenang, kedua lengannya semakin tidak
difungsikan. Hanya mengangkang dan tubuhnya siap sedia dilahap lelakinya.
Terpenting seseorang memeluknya dari belakang. Rosa merasa aman. Jika tidak
mendapatkan lengan dia akan tidur tengkurap, seperti memeluk bumi katanya. Setelah
kedua lengannya benar-benar lumpuh, kakinya tidak menyerah untuk mencari lengan
lelaki. Pukul 10 malam Rosa berjalan cepat menyusuri gang-gang keramaian,
menemui orang-orang yang didapatkannya melalui social media.
Satu
persatu Rosa menemui lelaki-lelakinya. Dia mengatur waktu dengan baik, dalam 24
jam dia menunggungangi 1 sampai 2 orang. Seminggu dia menghabiskan 7 sampai 10 lelaki.
Tidurnya menjadi nyenyak tanpa obat. Rosa memang berencana untuk berhenti
meminum obat, namun itu tidak mungkin. Orang sakit perlu diobati. Ketika fase depresi
tiba mau tidak mau dia harus meminum obat. Bahkan terkadang dia meminum obat
dua kali lipat dari dosis seharusnya, dengan berharap over dosis lalu mati
tanpa kesakitan. Kematian-kematian di kepalanya sama sekali tidak mengharapkan
iringan tangisan. Bahkan jika perlu Rosa ingin mayatnya dibakar agar tidak ada
seseorangpun mengunjungi kuburannya. Dia ingin mati tanpa jejak nyata, biarlah
dikenang dalam masing-masing kepala.
Malam
ini Rosa hampir mati kesepian karena tidak ada satu pun yang bisa ia tunggangi.
Dia berjalan menyusuri jalanan yang sepi, tubuhnya kedinginan. Mana bisa ia
memakai jaket dengan lengan lumpuhnya. Semakin malam semakin dingin, kedua
lengannya hanya bisa terkulai lemas di sisi kanan kiri, tidak mampu berlipat di
depan dada. Perut Rosa semakin kelaparan, uangnya habis untuk tembakau. Jika
dia beruntung pasangan satu malamnya akan memberi makanan dan sebungkus rokok.
Terkadang dia berpikir untuk membuka harga atas tubuhnya, namun jika itu
dilakukan akan membuatnya didominasi lelaki. Rosa tidak menjadikan dirinya
sebagai korban atau alat. Dia sama saja brengsek, lebih brengsek pun bisa.
“Bagaimana setelah ini kita berhubungan serius?”
pinta lelaki itu pada Rosa. Rosa hanya tersenyum membelakangi lelaki itu.
Pelukan lelaki itu makin erat, mendekap tubuh Rosa sampai menyentuh hati.
“Kasihinilah dirimu sendiri” Rosa beranjak dari
ranjang, dipakainya satu persatu kain yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan kaki, susah payah ia
melakukannya. Lelaki itu membantunya, memakaikan satu persatu. Sesekali ia mencium
kening dan pipi Rosa.
“Selamat tinggal dan terima kasih atas waktumu malam
ini”
“Kamu akan menghilang?”
“Aku tidak punya siapa-siapa untuk menghilang”
Komentar