Merawat Api
Sudah kubilang dia adalah api, lalu kau berupaya menjadi air? Pantas saja dia menghilang. Kau sangat tahu itu, lalu di tengah perjalanan kau mencoba menjadi angin. Kau sebut itu hampir berhasil membuat api menari-nari atas kehendakmu. Coba lihat! Hanya sejenak ia menganutmu. Mau jadi apa lagi?mau jadi benteng yang melingkari api? Setiap hari kau hanya menahan padahal kau hampir mampus kepanasan setiap hari. Harapanmu bahkan ragu-ragu, karena kau tahu ini tak kan berdampingan.
Aku akui kau tegas akan menyelesaikan apa yang kamu mulai tapi kau tak perlu takut dikatakan plin plan karena memutuskan berhenti di tengah jalan. Bukankah itu juga bisa disebut penyelesaian?Ah lagi-lagi kau berfikir kalah atau menang. Kau merasa kalah jika rasa yang kau berikan lebih banyak dari rasa yang kau terima. Kau ingin dimiliki seutuhnya, entah dari kapan perihal dimiliki selalu menjadikan kau merengek di setiap menjelang tidur. Mencari lengan yang terus mendekapmu dan membantumu beranjak setiap jatuhmu.
Apa susahnya beranjak sendiri?sejak kapan dan mau sampai kapan terus begini?Kau bilang tidak ada yang boleh menyakitimu?namun itu terlalu egois, karena kesakitan itu lahir dari harapanmu ke seseorang. Sekarang kau habis kan? Tinggal air mata yang tak ada habisnya.Air mata yang keluar ketika seseorang menanyai kau kenapa, ketika seseorang memelukmu bahkan ketika seseorang yang hanya melihat matamu. Lagi dan lagi kau amat menjadi seseorang yang menyedihkan. Kau akan hancur jika terus begitu. Bumi dan manusianya akan tetap baik-baik saja jikalau kau memilih mati.
Komentar
- Pria