Kaca helm
Din menerobos hujan, bukan karena ia terburu-buru, melainkan ia memang menyukainya. Bebannya satu persatu diruntuhkan tiap rintikan hujan, yang membatu mampu mencair. Lebih ringan katanya. Din tak mau kemana-mana, motor itu dukemudikan dengan tenang, sama halnya dengan hati yang mulai tenang. Tentu bukan Din jika ia mampu berdiam diri di dalam sebuah ruangan selama lebih dari 1hari. Selama perjalanan, banyak hal yang satu persatu terpapar begitu saja di kaca helmnya. Tak usah khawatir, dia tetap fokus mengemudi. Din terbiasa seperti itu, menampilkan peristiwa di kaca helmnya selama mengemudi. Jika tidak ada peristiwa lampau yang menarik perhatiannya, ia akan membuat peristiwa yang hanya akan terjadi di imajinasinya. Terkadang ia tertawa terbahak2 karena imajinasinya mampu meloncati mobil di depan. "Brengsek!!" Din mengumpat. Ia teringat pesan masuk dari kakaknya semalam. Kesukaan menanyai kabar orang-orang terkasih membuat kabarnya ikut membaik. "Bisa-bi...