Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Kaca helm

      Din menerobos hujan, bukan karena ia terburu-buru, melainkan ia memang menyukainya. Bebannya satu persatu diruntuhkan tiap rintikan hujan, yang membatu mampu mencair. Lebih ringan katanya. Din tak mau kemana-mana, motor itu dukemudikan dengan tenang, sama halnya dengan hati yang mulai tenang. Tentu bukan Din jika ia mampu berdiam diri di dalam sebuah ruangan selama lebih dari 1hari. Selama perjalanan, banyak hal yang satu persatu terpapar begitu saja di kaca helmnya. Tak usah khawatir, dia tetap fokus mengemudi. Din terbiasa seperti itu, menampilkan peristiwa di kaca helmnya selama mengemudi. Jika tidak ada peristiwa lampau yang menarik perhatiannya, ia akan membuat peristiwa yang hanya akan terjadi di imajinasinya. Terkadang ia tertawa terbahak2 karena imajinasinya mampu meloncati mobil di depan. "Brengsek!!" Din mengumpat. Ia teringat pesan masuk dari kakaknya semalam. Kesukaan menanyai kabar orang-orang terkasih membuat kabarnya ikut membaik. "Bisa-bi...

Depan tv

Bu, aku rindu sekali dengan rumah kita. Rindu saat kita bercanda tawa di depan tv,aku rindu saat kau dan ayah menasihati aku dan kakak diantara kedua adik yang mencoba menngerti pembahasan kita, iya Bu, aku rindu segala yang kita lakukan di depan tv. Aku rindu saat Ibu memarahi kakak ketika kita berebut remot tv. Aku rindu ketika Ibu dan ayah mengajak kakak dan aku membayangkan cita2 ketika kau dan ayah sudah tua. Bu, apakah ibu juga merindukan suasana di depan tv 4tahun lalu? Jujurlah Bu, sesekali saja kau lemah di depanku. Kau tak mungkin benar2 melupakan anak pertamamu kan Bu? Kau pura-pura kan Bu? Agar kau terlihat patuh pada Imammu, agar kau terlihat baik-baik saja. Iya, aku tahu Bu. Kau begitu sakit hati dengan anak pertamamu, tapi aku berani bertaruh kau tak akan benar2 ingin melupakan anak pertamamu. Aku tahu kau hancur Bu. Anak keduamu ini terlebih lagi, luluh lantah. Gemetar menyimpan rindu yang tak mungkin tertebus. Aku mencobanya Bu, selalu mencobanya untuk menyimpan keingi...

Ke-perempuan

Akhirnya dia kembali jatuh. Ia memang bodoh. Ketakutannya terkabul, sekali lagi ia jatuh. Pernah, sudah pernah. Tahu dirinya kembali membuat penghakiman. Tak usah kasihan, dia akan memakimu jika kau memasang wajah seperti itu. Aku mencoba berada diposisinya. Jiwanya dan hatinya telah tanggal. "Hai perempuan.." sapaku. Tak ada jawaban, hanya asap rokok yang berlalu di wajahku. Duduknya bersila, badannya membungkuk, kepalanya menunduk. "Perempuan?" geretunya seraya tersenyum simpul. "Keperempuanku telah lama tiada, jangan memanggilku seperti itu" diteguknya segelas bir Bali Hai. "Pernah ada kembali, pernah kupercayakan lagi dan pernah dijatuhkan lagi, haha!!" dia mulai menertawakan dirinya. Tidak, kurasa dia tidak berlebihan. Ia sangat mensakralkan kata perpisahan untuk gurauan. Itu menjatuhkannya (lelaki). "Pulanglah ke rumah.." bujukku. "Rumah? Rumahku diriku sendiri, aku tidak akan mempercayai rumah untuk memiliki diriku. Ti...