Depan tv
Bu, aku rindu sekali dengan rumah kita. Rindu saat kita bercanda tawa di depan tv,aku rindu saat kau dan ayah menasihati aku dan kakak diantara kedua adik yang mencoba menngerti pembahasan kita, iya Bu, aku rindu segala yang kita lakukan di depan tv. Aku rindu saat Ibu memarahi kakak ketika kita berebut remot tv. Aku rindu ketika Ibu dan ayah mengajak kakak dan aku membayangkan cita2 ketika kau dan ayah sudah tua. Bu, apakah ibu juga merindukan suasana di depan tv 4tahun lalu? Jujurlah Bu, sesekali saja kau lemah di depanku. Kau tak mungkin benar2 melupakan anak pertamamu kan Bu? Kau pura-pura kan Bu? Agar kau terlihat patuh pada Imammu, agar kau terlihat baik-baik saja. Iya, aku tahu Bu. Kau begitu sakit hati dengan anak pertamamu, tapi aku berani bertaruh kau tak akan benar2 ingin melupakan anak pertamamu. Aku tahu kau hancur Bu. Anak keduamu ini terlebih lagi, luluh lantah. Gemetar menyimpan rindu yang tak mungkin tertebus. Aku mencobanya Bu, selalu mencobanya untuk menyimpan keinginan untuk utuh kembali. Kusimpan dalam-dalam dan kini membusuk hingga menjadi borok menahun. Bu, aku ingin pulang namun apa mungkin aku kuat disergap kenangan di depan tv. Aku tidak akan pernah menangis di hadapanmu, tidak akan pernah.
"Kata perempuan itu padaku"
Komentar