Perempuan dengan keresahannya

Percakapan antar perempuan senja tadi masih bergema, dialog-dialognya  menggeser kereta-kereta yang biasa berlalu lalang di kepala. Hening,kemudian terdengarlah dialog-dialog itu.
"Mengapa musti ada status berpacaran? Jika masing-masing masih membagi rasanya pada jiwa yang di seberang? Mengapa dua insan yang saling suka tak asal jalan saja,kemudian jika masing-masing suatu waktu rasanya terbagi, mereka merela untuk saling tahu dan kembali jika rasa mereka kembali."
"Jika seperti itu, apakah akan ada sebuah makna komitmen?"
"Iya, tidak ada. Hanya menikahlah yang bisa disebut komitmen. Aku terlalu lelah untuk berkoar kembali, dan mendapat maaf kembali pada akhirnya"
"Jika kau seperti itu, kini aku mulai ketakutan, ketakutan akan menjadi seseorang yang aku benci. Kini aku mulai memperlakukannya seperti masa lalu memperlakukanku dulu. Mengumpat, marah sejadinya kemudian meminta maaf semaaf-maafnya. "
"Bukankah semakin kau membenci sesuatu, semakin kau mengingatnya?"
"Ya, itu menakutkan"

Ini tentang salah yang berkali. Bertengkar, klarifikasi, pengakuan, maaf, dan terulang kembali. Watak menjadi sebuah pemakluman klasik, saling belajar menjadi solusi sementara. Perempuan dengan kenangan buruknya,lelaki dengan wataknya. Perempuan dengan segala rasanya, lelaki dengan sekedar logikanya. Dua jiwa yang diharap menjadi satu tujuan, jangan pinta waktu untuk menjawab tanpa kau menanyakan diri sendiri terlebih dulu. Sekali lagi bukan salah waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gunungpati Semarang punya Wadas Prongkol

Cara ke Kampung Inggris dari Semarang

Bapak yang Abu-abu