Disudahi
Aku tidak mengerti bagaimana kau menilai kelayakan,
kau membiarkan dirimu menjadi tidak layak. Mendapatkan kesempatan saling adalah
hak diluar layak atau tidaknya dirimu, itu yang ingin kuberikan. Akupun tidak
selayak yang kau lihat, kita sama-sama brengsek. Tentu ada alasan baik aku dan
kau dipertemukan, mungkin memang tidak
diperuntukkan menjadi kita. Keberadaanmu yang singkat mampu menutup lubang
dalam dada. Kedatanganmu yang pasti membuatku tidak menghiraukan perihal
komunikasimu yang buruk. Aku menerima itu. Kini aku mengerti kau juga memiliki
lubang besar yang tidak mampu kupeluk. Menjadi orang barumu tidak menjadikanku
rumah, Kau yang memulai dan menyudahi. Apakah benar telah usai?
Kami saling berjabat tangan, menyudahi. Aku belum
tumpah,entah kapan akan tumpah. Kau tidak perlu tahu. Lihatlah aku yang
bahagia. Suatu ketika jika kau ingin memilikiku, katakanlah. Jika saat ini kau
tidak ingin kumiliki, sebenarnya aku memilikimu sutuhnya dalam kepala ini.
“Dia masih milikku” kataku pada diriku. Memilikimu
dalam diriku akan lebih merdeka bukan, kau tidak ada hak untuk menolak. Terima
kasih atas ciuman dan pelukan penutup. Entah setelah ini kau akan hilang, namun
tubuhku memilikimu seutuhnya.
“Bagaimana? Apakah kita akan berkomitmen?” kuingat
pertanyaan itu, aku tidak peduli menanyakannya pada seorang yang mabuk.
Keinginanku untuk dimilikimu lebih besar. Apakah aku layak dimilikimu? ternyata
kau tidak begitu menginginkanku .
Ku kira aku akan marah sejadi-jadinya atas
pengakuanmu, aku kalah dengan tatapan itu. Entah kasih yang bagaiman sampai
membuatku lapang dada.
Bu, peluk aku.
Jika ingin kembali, aku akan pergi setelah menerima
ciumanmu di pagi hari itu. Sudah kubilang kan aku bergetar, entah kau juga atau
tidak. Jika iya berati kau hebat dalam perihal menyudahi. Meratap begini
membuat diri menjadi rendah, namun aku sudah sampaikan bahwa aku tidak pantas
untuk kau sakiti. Aku hanya sedang berdebat dengan kepercayaan diri.
Bu, peluk aku.
Sejak awal kau menemuiku dalam keadaan yang tidak
baik. Terima kasih telah ada. Aku tidak menyesal atas waktu kita bercinta.
Mungkin kau tidak mampu mengingatnya, aku saja yang melakukannya. Apakah ini
cukup membuatku terlihat menyedihkan?
Kau pergi. Ku disini.
Komentar