PERSETUJUAN
PERSETUJUAN
Saat
itu dia terlihat sibuk memilah-milah buku di loakan. Tempat itu hanya
disambangi dua orang saja, jadi dia terlihat mencolok dengan topi kuningnya.
Beberapa majalah ditumpuk, dia mulai bernego dengan penjual. Hal itu sebenarnya
hanya perilaku yang ikut-ikutan kebiasaan pembeli saja, dia buruk dalam tawar
menawar harga. Dia sudah senang mendapat potongan harga 2.000 saja. Sebelum majalah-majalah
itu dimasukkan ke kantung kresek, dia menghirup bau majalah itu dengan wajah
sumringah. Ini kelima kalinya dia membeli majalah di loakan, selama lima kali
itu dia tidak pernah membeli di satu toko.
“Gendhis! Parkirannya sini!” Dia berbalik arah
kemudian meringis malu. Lalu aku berlari menuju parkiran.
“Tungguin!” Aku selalu tertawa melihatnya berlari,
larinya seperti pinguin. Seperti biasa, sesampainya dia langsung menempeleng kepalaku.
Kami mengendarai motor dengan lambat. Dia memeluk
erat pinggangku, nyaman sekali rasanya. Ketika lampu merah seseorang bapak tua
mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Gendhis memberikan uang 2.000
kepada Bapak itu lalu diambillah satu koran.
“Sini“ Aku memasukkan koran itu ke dalam tas ransel
yang kugendong di dada.
“Go!” Gendhis memberi aba-aba saat lampu hijau.
Entah mengapa di saat perjalanan bersama Gendhis aku
selalu berharap jalanan macet agar Gendhis memeluk lama. Ya, walaupun di rumah
pun dia juga bisa kuminta untuk memelukku, namun aku terlalu malu untuk meminta
itu. Kami memang selalu memberikan kasih sayang berupa sentuhan bukan
kata-kata. Aku sendiri tidak pandai berkata-kata manis. Memanggil dia sayang
saja membuat jatungku dag dig dug.
Sesampai di rumah, motor kuparkir di teras. Gendhis
turun lalu menghadap ke aku, sembari berkata.
“Helm” Dia memintaku mencopot helmnya, seperti
itulah dia mengajariku psysical touch. Aku benar-benar jatuh hati kepadanya.
“Kalian darimana?” Teriak Dina sembari memarkir
motor.
“Beli majalah” Gendhis memerkan majalahnya kepada
Dina.
“Aku mau kasih undangan nikah nih!”
“Kamu jadi nikah?”
“Iya dong!”
“Cepet bener, baru pacaran bentar udah mau nikah
aja” Kata Gendhis seraya membuka pintu rumah. Dina dan aku membuntuti.
“Yee biarain, daripada kalian pacaran udah lama tapi
nggak nikah-nikah” Dina ketawa puas.Aku dan Gendhis tidak merasa tersinggung,
karena memang nyatanya begitu. Aku masuk ke kamar untuk berganti celana pendek.
Dina dan Gendhis berbincang-bincang di ruang TV. Sebenarnya aku dan Gendhis
sudah saling mengenal orang tua satu
sama lain, namun kami belum berani memutuskan untuk menikah di umur 29 ini.
“Ndis mending kalian ke Australia “
“Memangnya apa sih bedanya kalau kita menikah. Kita
udah serumah, bareng mulu tiap hari. Saling sayang dan memiliki. Keluarga dan
temen-temen juga udah tahu kita berkomitmen.”
“Mulai deh, kita udah bahas itu yaaaa”
“Iya dan jawabanku apa coba tentang pernikahan”
“Cuma buat formalitas Negara” Dina menjawab.
“Capek kan kamu debat sama aku? Haha”
“Tahu ah, susah kamu nih”
Mereka masih membahas penting tidaknya sebuah
pernikahan. Orang tua kami memang sudah mengetahui kami memilih untuk
berkomitmen sebagai pasangan, namun mereka hanya bisa mengiringi kami sampai
titik ini. Teman-teman sering memberi masukan Negara mana yang mau menerima
pernikahan sesama jenis. Kami berdua tidak menikah bukan karena ketidakmauan
Negara menerima kami, namun karena pengertian kami tentang pernikahan.
Komentar