Anak-anak ibu dan bapak
Orang-orang yang terus menyudutkannya. Asap dan bola dijadikan papan penyudutan baru setelah anjloknya rupiah. Rupiah telah morekat(tidak begitu digemparkan). Timbul meme-meme asap yang diduakan dengan penanganan keamanan untuk keberlangsungan pertandingan bola piala Presiden. Saya yakin tidak semua meme yang membuat adalah korban. Terkadang saya berfikir " Apakah karena adanya bencana kabut asap, Ibu kita tidak boleh memperhatikan anaknya yang lain? Iya, saya tahu keadaan kabut asap mulai darurat lagi, udara sangat tidak sehat.Korban mulai berjatuhan, seiring itu pemadaman terus dilakukan oleh relawan kita dan bahkan relawan dari tetangga. Ini kemarau panjang ya Bu? Bahkan gunung-gunung yang tidak dibakar pun terbakar, apalagi lahan yang sengaja dibakar oleh orang-orang yang belum bertanggungjawab. Tidak mungkin para pemadam bermalas-malasan, buktinya sempat beberapa titik padam, hanya saja kondisi angin tidak bisa dikontrol dan hujan beberapa waktu kemarin belum bisa memadamkan semua titik panas. Semuanya berusaha, ada yang berusaha hanya dengan doa dan berusaha dengan terjun langsung. Semuanya peduli, ada yang peduli dengan mencari tahu perkembangannya setiap hari di berita-berita, baik membaca atau menonton dari sumber terpercaya tentunya dan ada yang peduli dengan sekedar ikut2tan saja, dengan membaca meme-meme pesimis atau artikel-artikel yang bahkan terang-terangan berpihak menjatuhkan yang tidak tahu jelas sumbernya darimana. Bukankah berita yang ditulis dan diedarkan tidak boleh berpihak?. Masalah bola, mungkin Ibu akan setuju saja itu diadakan karena cukup lama kita terpuruk setelah adanya gesekan 2 lembaga itu, toh sempat kita hampir juara bukan?. Mungkin pertandingan ini diselenggarakan untuk mempererat solidaritas, dari sesama pendukung daerah sampe sasama pendukung negeri. Indah sekali Bu, jika anak-anakmu saling bersikap "dewasa". Nyatanya baru sekali pertandingan pendukung yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedua peserta yang bertanding malah ricuh sendiri. Tidak apa, mungkin mereka belum "dewasa". Sekali lagi ini bukan masalah diabaikan atau tidak adil. Ibu punya banyak anak, apa iya jika anak yang satu sakit sedangkan anak lainnya yang sehat tidak boleh berangkat sekolah?"
Jika semua anak saling membangun bukankah Ibu kita jauh lebih kuat menghadapi semua ini. Setidaknya tolong hormati pemimpinmu maka saat itulah tetangga menghormati Ibumu. Membandingkan lalu menuntut. Menuntut lalu menjatuhkan. Sabar ya Bu...dan kau juga Pak.
Komentar