Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

BELAKANG PUNGGUNGMU

    BELAKANG PUNGGUNGMU Aku melihat bagaimana pundaknya naik turun, kepalanya menunduk. Jika pun aku berpindah duduk di depannya belum tentu aku bisa memastikan air matanya jatuh karena ia memakai kacamata dan topi. Aku tetap duduk di bangku belakangnya, sekarang ia menyalakan rokok. Ia menghisapnya dalam lalu menghembuskannya berlahan. Setelah itu menyeruput es kopi yang mulai mencair di sisi kanan tangannnya. Hujan semakin deras, kendaraan lewat dengan lambat, sesekali ia menghadap jalanan. Entah itu sedang melihat atau melamun. Dia duduk tegak mematung, sekitar 30 menit ia seperti itu. Sepertinya dia merasa ada yang menatapnya dari belakang, dia menengok sedikit lalu aku memainkan handphone. Ini tidak akan seperti di film, dimana aku akan menghampirinya dan berupaya menghibur. Apapun yang sedang memberatkan pundaknya, aku harap dia tetap bisa tegar.             Perempuan itu memakai kaos hitam, setelah kulihat-lih...

PERSETUJUAN

  PERSETUJUAN             Saat itu dia terlihat sibuk memilah-milah buku di loakan. Tempat itu hanya disambangi dua orang saja, jadi dia terlihat mencolok dengan topi kuningnya. Beberapa majalah ditumpuk, dia mulai bernego dengan penjual. Hal itu sebenarnya hanya perilaku yang ikut-ikutan kebiasaan pembeli saja, dia buruk dalam tawar menawar harga. Dia sudah senang mendapat potongan harga 2.000 saja. Sebelum majalah-majalah itu dimasukkan ke kantung kresek, dia menghirup bau majalah itu dengan wajah sumringah. Ini kelima kalinya dia membeli majalah di loakan, selama lima kali itu dia tidak pernah membeli di satu toko. “Gendhis! Parkirannya sini!” Dia berbalik arah kemudian meringis malu. Lalu aku berlari menuju parkiran. “Tungguin!” Aku selalu tertawa melihatnya berlari, larinya seperti pinguin. Seperti biasa, sesampainya dia langsung   menempeleng kepalaku. Kami mengendarai motor dengan lambat. Dia memeluk erat pi...

Tanpa Lengan

  TANPA LENGAN Rosa menendang pintuku selarut ini, ia meminta diselimuti. Aku melihat selimut dan jaket berserakan di lantai, kamarnya sungguh kacau. Hampir setiap malam dia menendang-nendang pintuku. Ini sudah kesekian kali aku meminta untuk menggunakan kakinya. Aku rasa dia bisa namun tidak memiliki kemauan.Sudah sebulan kedua lengannya lumpuh. Setiap menjelang sore ia merasa kedinginan. Rosa meringkuk di pojokan tanpa bisa memeluk lutut. Lampu kamar tak sempat ia nyalakan. “Cepat selimuti aku”Pinta Rosa dengan suara tak jelas karena tubuh yang menggigil. “Malam ini di sini saja” Aku mencoba mengatur Rosa walaupun tidak akan diturutinya. “Tidak bisa” “Minumlah obatmu kemudian biarkan otakmu tidur” “Urusilah hidupmu sendiri” “Kalau begitu tidak perlu kau memintaku menyelimutimu” “Terlantarkan saja aku sekalian” Rosa selalu begitu, memiliku sepihak. Sedangkan aku hanya memilikinya dalam pikiran.Pernah sekali aku tidak peduli dengannya. Kukunci kamarku lalu tidak kul...

Kepergian Rosa

  Rosa kembali memenuhi tubuh, dia masih terus mencari lelaki. Kukira telah usai. Malam akan terasa panjang jika tidak ada lelaki di ranjangnya. Setiap sore aku berdebat dengannya, lelap sendirian atau dengan dekapan lelaki. Aku menangis jika terbaring sendirian. Kapsul yang kutelan tidak ampuh lagi. Sebagai gantinya satu dua lelaki telah mengangkangi setiap hari. Beberapa tinggal sampai pagi dan beberapa pergi setelah klimaks. Aku tidak lagi mengerti romantisme bercinta seperti apa, hanya disetubuhi dan sudah. Semua semakin parah hingga vagina mulai menolak, Rosa mau membantuku istirahat bersenggama. Dia masih takut dengan penyakit kutukan. Aku semakin haus kasih sayang, Ros puas melihatku seperti ini. “Kau mau apalagi Ros?” “Tanyakan pada setiap goresan silet di tanganmu” “Apakah benar-benar kau ingin aku memutus urat nadi?” “Berikanlah tubuhmu seutuhnya padaku, maka kau tidak akan lagi kesepian" “Jiwaku seutuhnya kau dapatkan” “Sampai kapan kau mogok makan?” “Aku ...

Disudahi

   Aku tidak mengerti bagaimana kau menilai kelayakan, kau membiarkan dirimu menjadi tidak layak. Mendapatkan kesempatan saling adalah hak diluar layak atau tidaknya dirimu, itu yang ingin kuberikan. Akupun tidak selayak yang kau lihat, kita sama-sama brengsek. Tentu ada alasan baik aku dan kau dipertemukan, mungkin   memang tidak diperuntukkan menjadi kita. Keberadaanmu yang singkat mampu menutup lubang dalam dada. Kedatanganmu yang pasti membuatku tidak menghiraukan perihal komunikasimu yang buruk. Aku menerima itu. Kini aku mengerti kau juga memiliki lubang besar yang tidak mampu kupeluk. Menjadi orang barumu tidak menjadikanku rumah, Kau yang memulai dan menyudahi. Apakah benar telah usai? Kami saling berjabat tangan, menyudahi. Aku belum tumpah,entah kapan akan tumpah. Kau tidak perlu tahu. Lihatlah aku yang bahagia. Suatu ketika jika kau ingin memilikiku, katakanlah. Jika saat ini kau tidak ingin kumiliki, sebenarnya aku memilikimu sutuhnya dalam kepala ini. “Di...